Bangkitpos.id, Pringsewu, Lampung – Kabar positif datang dari program pendampingan anak stunting dan wasting di Kabupaten Pringsewu. Setelah berjalan selama 10 pekan, 19 dari 20 balita stunting atau 95 persen penerima manfaat di Pekon Blitar Rejo mengalami kenaikan berat badan. Sementara satu balita atau 5 persen masih berada dalam kondisi stagnan.
Capaian tersebut terungkap dalam kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) pendampingan kader melalui program pemberian makanan tambahan (PMT) yang dilaksanakan di Pekon Podomoro dan Pekon Blitar Rejo, Kabupaten Pringsewu, Lampung, Sabtu (3/10/2026). kemarin.
Program tersebut dilaksanakan selama tiga bulan atau 12 pekan dengan pola pemberian makanan bergizi sebanyak tiga kali konsumsi setiap hari. Hingga pelaksanaan monev, program telah memasuki pekan ke-10 dan pendampingan dijadwalkan berlanjut hingga 16 Oktober 2026.
Tak hanya berat badan, pertumbuhan tinggi badan balita di Blitar Rejo juga menunjukkan hasil positif. Dari 20 balita penerima manfaat, 100 persen mengalami peningkatan tinggi badan selama 10 pekan pendampingan.
Hasil berbeda terlihat di Pekon Podomoro yang melibatkan 10 balita penerima manfaat.
Sebanyak 6 balita atau 60 persen mengalami kenaikan berat badan, sementara 2 balita atau 20 persen berada dalam kondisi stagnan.
Sedangkan 2 balita lainnya atau 20 persen mengalami penurunan berat badan karena kondisi sakit.
Untuk pertumbuhan tinggi badan, sebanyak 90 persen balita mengalami peningkatan, sedangkan 10 persen lainnya masih stagnan.
Data tersebut menjadi bagian penting dalam evaluasi pelaksanaan program sekaligus menjadi bahan untuk melihat sejauh mana pendampingan kader memberikan dampak terhadap kondisi penerima manfaat.
Kegiatan monev dilakukan dengan turun langsung ke keluarga penerima manfaat.
Tim memantau proses pendampingan kader, kondisi balita, edukasi kepada orang tua, hingga praktik pengolahan dan pemberian makanan bergizi kepada anak.
Dengan demikian, program PMT tidak hanya berorientasi pada pemberian makanan, tetapi juga mendorong perubahan pengetahuan dan pola pengasuhan keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.
Kegiatan tersebut melibatkan Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Lampung, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Pringsewu, Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu, Dinas DP3AP2KB, puskesmas, pemerintah pekon, ahli gizi, kader, serta sejumlah mitra terkait.
Kelompok pertama dipimpin Wakil Ketua Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah, Dra. Chairunnisa, M.Kes., bersama Ahli Gizi Puskesmas Podomoro Aan, Viny selaku koordinator kader, serta kader Pekon Podomoro.
Kelompok kedua dipimpin Ketua Majelis Kesehatan PWA Lampung, Tina Maulida, M.Kes., bersama Yenni Suryani, M.Pd., Kepala Pekon Podomoro, serta kader.
Sementara kelompok ketiga dipimpin Bidan Desa Erni bersama kader.
Monev juga mendapat pendampingan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu melalui Tri Nova Nurhayati, SKM., MM., selaku Sub Koordinator Kasgagizi, serta Dinas DP3AP2KB yang dihadiri dr. Avi Risdyanti.
Di Pekon Blitar Rejo, monev juga dibagi menjadi tiga kelompok yang melibatkan unsur PP ‘Aisyiyah, PWA Lampung, Dinas DP3AP2KB, tenaga kesehatan, ahli gizi, pemerintah pekon, dan kader.
Kelompok ketiga dipimpin Pristi Wahyu Diawati, S.E., Wakil Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Lampung Bidang Kesehatan, bersama Umi Kursiyati, M.Pd., Irsyad Fatoni, S.H., anggota Komisi IV DPRD Pringsewu, serta kader Pekon Blitar Rejo.
Hasil positif selama 10 pekan pendampingan diharapkan tidak berhenti sebagai capaian sementara.
Pristi Wahyu Diawati, S.E., berharap program pendampingan anak stunting dan wasting dapat terus dilanjutkan agar memberikan dampak yang lebih luas terhadap penurunan prevalensi stunting.
“Harapannya, program pendampingan anak stunting dan wasting ini tetap berlanjut, sehingga angka prevalensi stunting dapat terus menurun. Kami juga berharap program ini mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah dan sektor-sektor terkait,” ujar Pristi. Minggu,(4/10/2026).

Menurutnya, keberlanjutan program membutuhkan dukungan dan komitmen bersama, terutama dalam memperkuat pendampingan keluarga dan peran kader di lapangan.
Di balik capaian positif program pendampingan, tersebut disupport oleh LAZISMU dan YAICI (yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia).dimana Kabupaten Pringsewu masih menghadapi persoalan gizi balita yang membutuhkan perhatian serius.
Dalam diskusi setelah kunjungan lapangan, Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu menyampaikan jumlah balita stunting di daerah tersebut berada pada kisaran 1.200 balita.
Selain itu, terdapat sekitar 735 balita wasting dan 1.429 balita underweight.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan gizi anak masih membutuhkan intervensi yang berkelanjutan, tidak hanya melalui pemberian makanan tambahan, tetapi juga edukasi keluarga, pemantauan pertumbuhan, penguatan kader, serta kolaborasi lintas sektor.
Hasil monev di Podomoro dan Blitar Rejo pun diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus pembelajaran untuk memperluas atau mereplikasi pola pendampingan serupa ke pekon lainnya di Kabupaten Pringsewu.
Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Lampung berharap penanganan stunting di Pringsewu dapat menjadi gerakan bersama.
Sebab, persoalan stunting bukan hanya menyangkut berat dan tinggi badan anak, tetapi berkaitan dengan kualitas tumbuh kembang dan masa depan generasi.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah pekon, tenaga kesehatan, ‘Aisyiyah, kader, keluarga penerima manfaat, serta sektor terkait perlu terus diperkuat.
Kegiatan monev menjadi bagian penting untuk memastikan program berjalan sesuai tujuan sekaligus mengidentifikasi tantangan yang dihadapi kader dan keluarga di lapangan.
Majelis Kesehatan ‘Aisyiyah bersama seluruh mitra berkomitmen memperkuat kader sebagai ujung tombak pendampingan keluarga, terutama dalam pemantauan pertumbuhan balita, edukasi gizi, pemberian makanan tambahan, serta pendampingan keluarga secara konsisten.
Hasil 10 pekan sudah memberikan sinyal positif. Tantangannya kini bukan sekadar bagaimana mempertahankan capaian, tetapi bagaimana memastikan pendampingan terus berjalan dan menjangkau lebih banyak anak yang membutuhkan.
Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, program pendampingan diharapkan mampu menjadi salah satu langkah nyata dalam mendorong Pringsewu semakin dekat menuju bebas stunting.
Herman Bangkit









