Bangkitpos.id, Bakauheni Lampung Selatan– Aktivitas arus mudik di Dermaga II Pelabuhan Bakauheni tak sepenuhnya membawa berkah bagi para kuli panggul. Di tengah lalu lalang penumpang dan kapal yang bersandar, Saniman (57), salah satu kuli panggul, justru merasakan penurunan pendapatan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Sejak pagi pukul 07.00 WIB, Saniman sudah memulai aktivitasnya, menggantikan shift malam. Hingga sore hari pukul 16.00 WIB, ia tetap siaga menunggu penumpang yang membutuhkan jasanya. Namun, kesempatan kerja kini semakin terbatas. Jum’at,(20/3/2026).
“Pengguna jasa kuli panggul berkurang. Pendapatan juga jadi tidak menentu, kadang dapat, kadang tidak,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Menurutnya, tarif jasa kuli panggul tidak memiliki standar baku. Semua bergantung pada kesepakatan dengan penumpang, dengan kisaran antara Rp20 ribu hingga Rp40 ribu untuk angkutan barang seperti tas, koper, maupun kardus dari kapal menuju terminal

Saniman menjelaskan, menurunnya pengguna jasa kuli panggul dipengaruhi perubahan pola perjalanan masyarakat. Banyak penumpang kini menggunakan jasa travel, bus langsung, hingga kendaraan pribadi, sehingga tidak lagi membutuhkan bantuan untuk mengangkut barang.
“Sekarang kebanyakan sudah bawa kendaraan sendiri, jadi barang juga dibawa sendiri,” katanya.
Dalam sehari, ia mengaku hanya mendapatkan dua hingga tiga kali pekerjaan, bahkan seringkali tidak sama sekali. Padahal, beban yang diangkat bisa mencapai sekitar 70 kilogram sekali angkut.
Pria kelahiran Serang, Banten ini telah menekuni profesi sebagai kuli panggul sejak 1990. Selama 36 tahun, ia tetap bertahan di tengah kerasnya persaingan dan ketidakpastian penghasilan. Untuk menambah pemasukan, ia juga bekerja sampingan sebagai kuli bangunan.
Meski kondisi arus mudik tahun ini cenderung sepi, Saniman tetap menaruh harapan pada arus balik Lebaran.
“Mudah-mudahan arus balik nanti lebih ramai, rezeki ada, dan semua berjalan lancar,” harapnya.
Senada dengan Suhandi (45) tahun asal merak Banten yang bertugas sebagai jasa kuli panggul dipelabuhan Bakauheuni yang telah bekerja lebih dari 15 tahun, menambahkan bahwa maraknya belanja online turut memengaruhi berkurangnya pengguna jasa.
“Sekarang orang belanja bisa dari rumah, barang dikirim. Dulu orang belanja di Jakarta lalu dibawa pulang, jadi butuh kuli, ada juga kebanyakan bawa barangnya dengan kendaraan sendiri,” jelasnya.
Di tengah dinamika Pelabuhan Bakauheni, kisah Saniman dan Suhandi menjadi gambaran nyata perjuangan pekerja sektor informal yang tetap bertahan, meski dihadapkan pada perubahan zaman dan ketidakpastian ekonomi.
Herman Bangkit









