Bangkitpos.id, Mojokerto, – Suasana religius dan khidmat menyelimuti kompleks makam umum Dusun Banjarsari, Minggu (6/9/2026). Masyarakat bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat kembali berkumpul dalam kegiatan rutin Khotmil Qur’an, sholawatan, dan doa bersama yang diselenggarakan setiap Ahad pertama setiap bulan.
Kegiatan keagamaan tersebut berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Jamaah yang terdiri atas ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, bapak-bapak, ibu-ibu, serta warga sekitar mengikuti seluruh rangkaian acara dengan khidmat.
Dalam kegiatan tersebut, Ustaz Mukid menyampaikan ceramah yang mengajak jamaah melakukan introspeksi terhadap kualitas ibadah, khususnya kewajiban salat yang merupakan salah satu amalan utama dalam kehidupan seorang muslim.
Ustaz Mukid mengawali tausiyahnya dengan mengingatkan jamaah bahwa pada akhirnya manusia akan meninggalkan seluruh urusan dunia. Harta, pekerjaan, usaha, jabatan, maupun keluarga tidak akan dibawa ketika seseorang menghadap Allah SWT.
Menurutnya, salat yang selama ini kerap dianggap sebagai kewajiban rutin justru harus menjadi perhatian utama. Ia kemudian menyampaikan kisah seorang alim yang menangis ketika berada dalam kondisi sakaratul maut.
Dalam kisah tersebut, seorang ulama yang dikenal sebagai ahli ibadah menangis bukan karena akan meninggalkan harta, keluarga, maupun usaha yang dimilikinya. Ia menangis karena menyadari bahwa dirinya akan meninggalkan salat.
Pesan tersebut menjadi bahan renungan bagi jamaah yang hadir.
Ustaz Mukid mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan kesibukan dunia sebagai alasan meninggalkan atau menunda kewajiban salat.
“Kalau urusan dunia, kita mampu bekerja dari pagi sampai sore, bahkan lembur hingga malam. Namun, ketika berkaitan dengan urusan akhirat, terkadang kita beralasan lelah, mengantuk, atau sibuk. Padahal, salat merupakan kewajiban yang menjadi salah satu perkara pertama yang diperhitungkan,” pesan Ustaz Mukid dalam ceramahnya.
Ia juga mengajak jamaah untuk senantiasa melakukan muhasabah, yakni mengevaluasi diri atas amal dan ibadah yang telah dilakukan selama hidup.
Menurutnya, usia manusia terus berjalan dan tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan datang. Oleh karena itu, selama masih diberikan kesempatan hidup, waktu sebaiknya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal kebaikan.
Ustaz Mukid juga mengingatkan jamaah agar tidak hanya mengejar keberhasilan duniawi. Menurutnya, kehidupan dunia memang penting, tetapi kehidupan akhirat merupakan tujuan akhir yang harus dipersiapkan.
Ia kemudian memberikan gambaran sederhana mengenai waktu yang digunakan seseorang untuk beribadah. Dalam sehari terdapat 24 jam, sedangkan kewajiban salat lima waktu hanya membutuhkan sebagian kecil dari waktu tersebut.
“Jika dihitung, waktu yang kita gunakan untuk salat dalam sehari sebenarnya tidak sebanding dengan 24 jam yang Allah berikan kepada kita. Karena itu, jangan sampai kita merasa berat menyediakan waktu untuk menghadap Allah,” ujarnya.
Ceramah tersebut mengajak jamaah untuk kembali memperbaiki kualitas salat, bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan juga berupaya menghadirkan kekhusyukan dan kesadaran bahwa salat merupakan bentuk komunikasi seorang hamba dengan Allah SWT.
Selain Ustaz Mukid, Kyai Hasan Matori juga menyampaikan ceramah kepada jamaah. Ia menekankan pentingnya menjaga keikhlasan dalam beribadah serta menjadikan kegiatan keagamaan sebagai sarana memperkuat hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.

Kyai Hasan Matori mengingatkan bahwa membaca Al-Qur’an, bersholawat, dan berkumpul dalam majelis ilmu hendaknya tidak berhenti sebagai rutinitas, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.
“Majelis seperti ini jangan hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi tempat untuk memperbaiki hati, memperkuat iman, dan meningkatkan kepedulian kepada sesama. Ilmu yang kita dengar harus diamalkan dalam kehidupan,” tutur Kyai Hasan Matori.
Ia juga mengajak jamaah untuk menjaga persatuan, menghormati orang tua, mempererat silaturahmi, serta menghindari sikap saling menyalahkan. Menurutnya, kehidupan bermasyarakat akan menjadi lebih baik apabila setiap orang mampu menjaga lisan, memperbanyak kesabaran, dan mengedepankan akhlak.
Kyai Hasan Matori turut mengingatkan bahwa kematian merupakan kepastian yang akan dihadapi setiap manusia. Karena itu, keberadaan makam hendaknya menjadi pengingat agar masyarakat senantiasa mempersiapkan bekal amal dan tidak terlena oleh kehidupan dunia.
Kegiatan Rutin Setiap Ahad Pertama
Sementara itu, kegiatan Khotmil Qur’an, sholawatan, dan doa bersama di kompleks makam umum Dusun Banjarsari merupakan kegiatan yang terus dijaga secara istiqamah oleh masyarakat.
Advokat Hadi Purwanto, ST., SH., MH., selaku penanggung jawab kegiatan, menyampaikan rasa syukur karena kegiatan keagamaan yang diselenggarakan secara rutin tersebut dapat terus berjalan.
Ia mengatakan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya menjadi wadah untuk membaca Al-Qur’an, bersholawat, dan memanjatkan doa, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga.
“Alhamdulillah, kita dapat kembali bertemu dalam kegiatan yang sama seperti bulan sebelumnya. Setiap Ahad pertama setiap bulan, kita mengadakan Khotmil Qur’an, sholawatan, dan doa bersama di kompleks makam umum Dusun Banjarsari. Semoga majelis ini senantiasa diberikan keberkahan dan kita semua diberikan keistiqamahan dalam menjalankan kebaikan,” ungkap Hadi Purwanto.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh jamaah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga yang selama ini terus memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.
Menurutnya, kegiatan keagamaan semacam ini perlu terus dipertahankan karena memiliki nilai positif dalam kehidupan bermasyarakat. Selain memperkuat keimanan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang silaturahmi dan kebersamaan.
Meneladani Rasulullah SAW
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan pembacaan sholawat dan doa bersama. Para jamaah bersama-sama memanjatkan doa serta mendoakan keluarga dan para leluhur yang telah meninggal dunia.
Dalam sambutan pembuka, disampaikan pula pentingnya memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW serta meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Sholawat tidak hanya menjadi ungkapan kecintaan kepada Rasulullah SAW, tetapi juga diharapkan dapat mendorong umat untuk mengikuti ajaran, akhlak, dan keteladanan beliau.
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan makam tersebut sekaligus mengingatkan jamaah bahwa kehidupan manusia pada akhirnya akan berakhir dengan kematian.
Oleh karena itu, keberadaan makam bukan sekadar tempat pemakaman, melainkan juga sarana bagi masyarakat untuk melakukan refleksi dan mengingat bahwa setiap manusia akan kembali kepada Allah SWT.
Menguatkan Silaturahmi dan Kepedulian Sosial
Kehadiran masyarakat dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa tradisi keagamaan dan kebersamaan masih terus hidup di tengah masyarakat Dusun Banjarsari.
Tidak hanya bagi kalangan orang tua, kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda agar semakin dekat dengan kegiatan keagamaan serta memahami pentingnya menjaga hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.
Hadi Purwanto berharap kegiatan rutin tersebut dapat terus dilaksanakan secara istiqamah dan semakin banyak masyarakat yang berpartisipasi.
“Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti sebagai acara rutin. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan bersama membawa manfaat, menjadi amal jariyah, dan semakin mempererat persaudaraan masyarakat,” pungkasnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama. Jamaah mengikuti rangkaian doa dengan khusyuk sebelum akhirnya kegiatan berakhir dan masyarakat kembali ke kediaman masing-masing.
Pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut menjadi pengingat bagi seluruh jamaah bahwa kesibukan dunia tidak boleh membuat manusia melupakan kewajibannya kepada Allah SWT.
Selama masih diberikan umur dan kesempatan, memperbaiki salat, memperbanyak ibadah, bersholawat, membaca Al-Qur’an, dan menjaga silaturahmi merupakan bagian penting dalam mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.
Susy









