Bangkitpos.id, Penengahan, Lampung Selatan – Kondisi bangunan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Swasta Mathlaul Anwar di Jalan Raya Lama Kampung Baru, Desa Kampung Baru, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, membutuhkan perhatian. Atap genteng dan sejumlah bagian kayu bangunan dilaporkan mengalami kerusakan akibat usia bangunan, sementara renovasi terakhir dilakukan pada 2012.
Persoalan ini bukan sekadar tentang gedung sekolah yang menua. Keselamatan siswa dan kenyamanan proses belajar mengajar menjadi hal penting yang perlu diperhatikan, terlebih salah satu bagian atap ruang kelas II pernah ambruk ketika kegiatan belajar sedang berlangsung.
Beruntung, peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban. Namun, kondisi itu menjadi pengingat bahwa ruang belajar yang aman dan layak merupakan kebutuhan mendasar bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Dari pantauan media bangkitpos dilapangan dan penjelasan dari Kepala MI Mathlaul Anwar, Muhammad Nuhri, S.Pd.I., mengatakan pada Rabu (28/10/2026), menjelaskan bahwa bangunan sekolah terakhir kali mendapat rehabilitasi pada 2012 melalui bantuan yang disebutnya berasal dari jalur internal dan eksternal madrasah, termasuk bantuan dana dari Australia.
“Terakhir direnovasi pada tahun 2012. Saat itu kami mendapat bantuan rehabilitasi. Sejak itu, sampai tahun 2026 ini, belum ada lagi bantuan perbaikan yang kami terima dari pemerintah daerah maupun pihak lainnya,” ungkap Muhammad Nuhri.
Ia menjelaskan, saat ini terdapat dua ruang kelas yang masuk kategori rusak berat, yakni ruang kelas V dan kelas II. Sementara itu, empat ruangan lainnya mengalami kerusakan ringan, terdiri atas dua ruang kelas, ruang kantor, dan aula.
Kerusakan pada bangunan tersebut membuat pihak sekolah harus berupaya melakukan penanganan dengan kemampuan terbatas. Setelah bagian atap ruang kelas II ambruk, wali murid bersama dewan guru bergotong royong memperbaikinya secara swadaya.
Upaya tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak. Meski demikian, perbaikan seadanya belum menjawab seluruh kebutuhan rehabilitasi bangunan yang kondisinya masih memerlukan penanganan lebih lanjut.
“Alhamdulillah, wali murid bersama dewan guru ikut bergotong royong memperbaiki bagian yang ambruk dengan kemampuan seadanya. Tetapi, pekerjaan rumah kami masih banyak. Prioritas utama adalah ruang kelas V yang rusak berat, serta perbaikan ruang kelas lainnya, kantor, dan aula,” jelasnya.
Menurut Muhammad Nuhri, kebutuhan sekolah tidak berhenti pada perbaikan atap dan bangunan. Fasilitas pendukung pembelajaran, termasuk meja dan kursi siswa, juga membutuhkan pembenahan agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan lebih nyaman.
Saat ini, MI Mathlaul Anwar Kampung Baru memiliki 152 siswa, mulai dari kelas I hingga kelas VI. Dengan jumlah tersebut, ketersediaan ruang belajar yang aman dan fasilitas pendidikan yang memadai menjadi kebutuhan penting untuk mendukung kegiatan belajar sehari-hari.
Muhammad Nuhri yang telah mengabdi di madrasah tersebut sejak 1998 mengaku masih banyak sarana dan prasarana yang perlu dibenahi. Selama kurang lebih 28 tahun mengajar, ia berharap kondisi sekolah dapat semakin baik sehingga para siswa memperoleh lingkungan belajar yang layak.
“Kami masih membutuhkan banyak perbaikan, baik ruang kelas maupun fasilitas belajar. Harapan kami, anak-anak bisa belajar dengan nyaman dan aman. Sarana dan prasarana ini merupakan kebutuhan utama yang perlu diperhatikan,” tuturnya.
Muhammad Nuhri mengatakan pihak sekolah tidak tinggal diam menghadapi keterbatasan tersebut. Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk mengajukan proposal melalui jalur dinas terkait, Kementerian Agama, serta melalui salah satu anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan.
Namun, menurut keterangannya, hingga kini pihak sekolah belum memperoleh kejelasan tindak lanjut atas pengajuan bantuan perbaikan tersebut.
Kondisi ini membuat kebutuhan rehabilitasi gedung masih menjadi pekerjaan yang harus diperjuangkan pihak sekolah, sementara kegiatan pendidikan tetap berlangsung dengan fasilitas yang ada.
Melalui pemberitaan ini, Muhammad Nuhri berharap pemerintah daerah, instansi terkait, serta pihak lain yang memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan dapat melihat kondisi MI Mathlaul Anwar secara langsung dan mempertimbangkan bantuan sesuai kewenangan serta mekanisme yang berlaku.
“Kami tidak meminta yang muluk-muluk. Kami hanya berharap sarana dan prasarana pendidikan di MI Mathlaul Anwar ini bisa memadai, sehingga anak-anak dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan nyaman dan aman. Sekolah swasta juga layak mendapat perhatian,” tegasnya.
Ia menambahkan, MI Mathlaul Anwar Kampung Baru juga menjadi sekretariat Kelompok Kerja Kepala Madrasah (KKKM) yang menaungi 11 madrasah, terdiri atas delapan madrasah di Kecamatan Penengahan dan tiga madrasah di Kecamatan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan.
Keberadaan madrasah tersebut bukan hanya menjadi tempat menimba ilmu bagi siswa, tetapi juga bagian dari kegiatan koordinasi antar madrasah di wilayah tersebut.
Karena itu, persoalan kerusakan bangunan sekolah ini diharapkan mendapat perhatian dan tindak lanjut dari pihak terkait. Sebab, memastikan ruang belajar yang aman bukan semata-mata urusan memperbaiki genteng dan kayu yang lapuk, melainkan juga bagian dari upaya menjaga keselamatan siswa dan mendukung masa depan pendidikan generasi penerus.
Herman Bangkit









